Legenda tersisa di Kaligintung dan kedundang

Gambar

Sebuah legenda cerita rakyat tersisa di Desa Kaligintung dan Kedundang, Kecamatan Temon. Cerita rakyat diawali dari kisah perjalanan Kyai Ageng Dalmudal, tokoh masyarakat setempat yang telah meninggal ratusan
tahun silam.

Meski sudah tiada, sampai saat ini makam Kyai Ageng Dalmudal masih tetap lestari, sekaligus menyuarakan cerita masa lampau yang dipercayai oleh masyarakat. Kebesaran sosok Kyai Ageng Dalmudal terlihat dari 13 balok kayu jati yang tersusun rapi menjulang ke atas, hampir mendekati batas tertinggi atap cungkup makam yang berlokasi di Gunung Traunan, Dusun Pedukuhan Lima, Kaligintung, Kecamatan Temon.

Tumpukan kayu setinggi tiga meter itu merupakan nisan untuk penghormatan kepada Kyai Ageng Dalmudal, yang saat ini diyakini sebagai leluhur warga Desa Kaligintung. Jasad Kyai Ageng Dalmudal sendiri terletak di bawah nisan berundak itu. Saat ini, nisan ditutupi dengan kain mori. Hanya pada bulan Ruwah pada penanggalan Jawa saja, makam tersebut dibersihkan oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membangun desa seluas kurang lebih 219 hektar ini.

Konon, lembaran sejarah ini dimulai saat Kyai Ageng Dalmudal yang memiliki nama muda Kanjeng Pangeran Kebo Kenongo hijrah ke Kulonprogo. Putra pertama Prabu Brawijaya dari Majapahit itu tidak memperoleh tahta Kerajaan. Karena Brawiajaya memberikan tahta kepada anak keduanya. Kebo Kenongo kemudian memilih pergi mening galkan Majapahit hingga akhirnya menetap dan meninggal di Kaligintung.

Salah seorang juru kunci makam, Bambang Heruntoro membenarkan cerita itu. Menurutnya, cerita tentang Kyai Ageng Dalmudal tidak pernah hilang. ”Kami selalu mewariskan cerita tutur ini kepada anak cucu kami secara turun temurun,” imbuhnya.

Bambang menjelaskan waktu Dalmudal hijrah ke Kulonprogo, sekawanan prajurit dari Majapahit dengan dipimpin oleh Kyai Kendil Wesi juga datang ke Kulonprogo, hendak menjemput Dalmudal. Namun ia menolaknya,sehingga terjadi pertempuran. “Dalam pertempuran, Kyai Dalmudal akhirnya menang,” imbuhnya.

Uniknya, buntut dari peristiwa ini, penduduk di kedua desa itu dilarang saling menikah. Jika dilanggar, mereka akan mendapatkan marabahaya.

Gambar

“Sampai sekarang antara warga Kedundang dan Kaligintung tidak pernah besanan atau melakukan perkawinan,” ungkapnya. Meski demikian, kerukunan antarwarga Kedundang dan Kaligintung terus terbina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s