Asal Usul Masjid Kedungdang

Kedundang sebuah desa di wilayah Kulonprogo Jogyakarta. Menarik diungkap karena terdapat masjid peninggalan Sunan Kalijaga. Dari cerita peninggalan leluhur, berdirinya masjid berawal dari hajad seorang janda kaya saat menggelar selamatan untuk arwah suaminya. Kenduri dilakukan dengan menyembelih seekor sapi atau kerbau. Pada peringatan hari ketujuh, saat para ibu asyik memasak datang seorang pengemis berpakaian kumuh dan berbau meminta sedekah. Tapi pengemis itu diusir dengan pongah oleh si janda karena dianggap mengganggu. Berawal dari peristiwa itulah masjid Kedundang berdiri.

PADA hari keempatpuluh kematian suaminya, janda ini kembali melakukan kenduri besar-besaran. Hal sama terjadi. Pengemis kotor dan bau yang pernah diusirnya tempo hari datang lagi. Seperti biasa pengemis itu meminta sedekah kepada si janda. Saat itu janda tadi melemparkan sekeping uang dan menyuruh pengemis pergi dari rumahnya. Dengan langkah kaki yang berat, akhirnya pengemis itu pergi sambil memungut uang yang dilemparkan si janda.

Malam keseratus hari kematian suaminya, si janda kembali mengadakan kenduri yang lebih meriah dari sebelumnya. Seperti layaknya orang yang mengadakan hajatan, si janda berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Ketika sedang asyik menyambut tamu, matanya terpana saat melihat seorang lelaki setengah baya berpakaian serba putih dan bersorban sehingga terkesan anggun dan berwibawa.

Begitu melihat pria anggun itu, dengan cepat si janda lari menyambutnya sambil mencium tangan pria itu.

Kemudian dipersilakan pria ini duduk di tempat yang sangat istimewa. Ketika acara hendak dimulai dengan pembacaan doa, semua yang hadir di situ tidak ada yang bersedia melakukannya, karena segan dengan pria asing yang datang pada acara kenduri itu. Akhirnya mereka mempersilakan kepada pria itu untuk memimpin membacakan doa.

Saat memimpin doa, laki-laki tak dikenal ini hanya membaca beberapa surat pendek yang kemudian menyuruh tamu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Setelah acara selesai dan para tamu pulang, pria itu tetap duduk sambil memutar-mutar biji tasbihnya. Rupanya si janda tidak terlalu puas dengan doa yang dibaca oleh pria itu, janda itu cepat-cepat menemuinya. Di depan pria itu ia mengeluh dan melampiaskan rasa kecewanya. Pasalnya doa yang dibawakan terlalu singkat sehingga tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk acara kenduri itu.

Mendengar keluhan itu, pria itu menjelaskan bahwa membaca surat apapun kalau dilakukan dengan benar pahalanya akan sama. Lebih lanjut ia mengatakan, “Saya tahu kalau ibu mengadakan kenduri ini bukan untuk mendapat ridho, melainkan hanya untuk mencari pujian dari masyarakat. Tergopoh-gopohnya ibu menyambut saya bukan karena akhlak dan budi yang ibu miliki. Melainkan karena ibu telah silau melihat pakaian yang saya kenakan ini,” ujarnya bernada tenang.

Pria itu lalu membuka jubah dan sorban, lalu diserahkan pada si janda. “Ini yang ibu inginkan. Terimalah dengan senang hati. Mudah-mudahan ibu bisa bangga dengan benda-benda seperti ini,” ucap pria itu sambil meninggalkan rumah si janda.

Ketika pria itu pergi si janda tersentuh hatinya. Ia merasa bersalah karena ternyata pria itu adalah pengemis yang tempo hari meminta sedekah kepadanya. Rasa penyesalan itu membuat si janda berusaha meminta maaf pada pria itu. Tapi saat ia keluar dari rumah, pria itu sudah tidak tampak lagi. Si janda terus berlari mengikuti jejak perginya pria itu.

Setelah bersusah payah mengejar, akhirnya si janda berhasil menemukan pria itu. “Mengapa engkau bersusah payah mengejarku? Apa yang engkau inginkan dariku?” tanya pria itu. “Saya mohon maaf atas segala perbuatan saya. Sekarang apapun permintaan bapak, akan saya berikan asalkan bapak memaafkan saya,” jawab janda itu. “Seandainya kubuat engkau mati, kamu bersedia?” tanya pria itu lagi. “Saya bersedia pak,” jawab janda itu lagi. Seketika itu juga pria itu menghentakkan kakinya ke tanah. Dan muncullah lobang besar di depan mereka. “Kalau kau aku kubur hidup-hidup di lubang ini bersedia?” tanya pria itu lagi. “Saya bersedia,” jawab janda itu dengan keyakinan penuh.

Singkat cerita, janda itu akhirnya dikubur hidup-hidup di lubang itu. Keesokan harinya, lobang itu dibongkar kembali oleh pria itu. Ternyata janda yang dikubur hampir satu hari itu masih hidup. Kemudian pria ini bertanya, “Apa yang engkau saksikan selama berada di dalam lubang itu?” tanyanya lagi.

“Saya merasa disiksa oleh orang yang tidak saya kenal. Saat saya hendak dipukul dengan gada berukuran besar yang juga panas membara, saya diselamatkan dengan sekeping logam yang dapat menghancurkan gada itu,” jawab si janda.

Mendengar keterangan si janda, pria itu menjelaskan bahwa keping logam yang menyelamatkan nyawa itu, tidak lain adalah uang logam yang pernah diberikan secara ikhlas kepada si pengemis yang datang memohon sedekah.

“Hanya uang yang engkau berikan dengan ikhlas yang dapat menyelamatkan hidupmu kelak nanti. Sapi dan kerbau yang engkau sembelih tidak akan menolong. Karena semua yang engkau lakukan bukan untuk mencari pahala, melainkan untuk mendapat pujian dari orang lain,” papar pria itu.

Janda itu tertunduk malu, sadar bahwa perbuatannya selama ini salah. Apalagi ketika mengetahui kalau ternyata pengemis itu adalah salah satu wali yang bernama Sunan Kalijaga. Dengan perasaan malu dan menyesal akhirnya wanita itu berniat untuk menghibahkan seluruh hartanya ke jalan yang benar. Maka dengan uang yang dimiliki si janda, dibangunlah sebuah masjid sederhana yang akhirnya terkenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga. Hingga kini masjid itu berdiri kokoh di Kedundang Kulonprogo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s